Pages

Monday, May 2, 2011

Nonton Bareng Premiere Film JAKARTARCK



Directed : Ari Rusyadi
Produced : Naga Natio, Aji Warpani, & Hermanto

Menyempatkan diri untuk hadir, setelah menembus kemacetan Jakarta Selatan di hari Jum'at sore. Berhasil datang tepat waktu ke tempat pertunjukan dengan sepeda lipat, sekalian ketemu beberapa member dari id-foldingbike. Untung saja malam itu tidak hujan, walaupun sedikit mendung. Dibawah ini adalah sedikit liputannya, salam gowes!

Pada hari jum'at 29 April 2011, pada jam 8 malam, di area Taman Ismail Marzuki. Sebuah film dokumenter sepeda fixed gear Jakarta pertama diputar di Indonesia. Sekitar 500 sepeda fixie hadir menyaksikan bersama tayangan perdana film tersebut. Acara dikemas dengan sangat sederhana, bertempat di tempat terbuka, yaitu di Halaman Teater Besar, dan diputar diatas layar tancep yang cukup besar. Yang unik para penonton pun kebanyakan nonton diatas sepeda ala drive-in theater tahun 1960-an.


jakarTARCK Official Trailer from jakarTARCK on Vimeo.

Film dokumenter ini banyak mengupas tentang perkembangan fixed gear di Jakarta pada umumnya. Banyak tokoh-tokoh yang diwawancarai, tidak lupa toko-toko sepeda andalan, hingga komunitas-komunitas fixed gear pun tidak ketinggalan dibahas dan disorot. Benar-benar film yang sangat menggugah, apalagi beberapa waktu belakangan ini demam sepeda sedang tinggi-tingginya di Indonesia.

Beberapa foto saat nonton bareng Premiere JAKARTARCK dapat dilihat dibawah ini :







Friday, April 8, 2011

Misery Index Menggempur Ibukota


Demi untuk nambah-nambahin postingan di blog ini, tidak ada salahnya membahas konser Misery Index di Jakarta, yang sempat saya tonton minggu kemarin. Mumpung masih ramai-ramainya dibahas, serta keburu belum basi liputannya. Tanpa bicara panjang lebar lagi, berikut liputannya dibawah.

Setelah ditunggu-tunggu, pada tanggal 3 April 2011, akhirnya Misery Index band Death Grind asal Amerika, berhasil menggulung ibukota dengan balutan distorsinya, dalam tour yang bertajuk Heirs to Thievery Asian Tour 2011. Setelah sebelumnya mereka main di berbagai tempat di Indonesia, seperti Surabaya, Makasar, Jogja, dan Medan. Yang berhasil menggiring Misery Index ke jakarta adalah Revision Entertainment, sebuah event organizer hasil reinkarnasi dari Pentia Quantum, yang bulan september tahun lalu mendatangkan Dying Fetus.

Acara mulai sekitar pukul 3 sore, dan para penonton sudah mulai masuk kedalam. Walaupun sore itu tidak seramai Jakarta Death Fest, namun beberapa penonton tetap khusyuk ber-headbang di bibir panggung seraya menikmati band pembukanya. Speed Zero Meter, Bleeding Corpse, Oshiego (Singapura), berhasil memanaskan suasana. Disusul oleh Beside yang dipotong break maghrib, dan ketika sudah mulai menggelap dilanjutkan oleh Dead Vertical, Siksa Kubur. Sehingga penonton pun sudah mulai memadati area dalam.






Kemudian sekitar pukul 7 malam, kuartet Misery index tampil mengganas dan mematikan. Disambut dengan penonton yang atraktif sepanjang pertunjukan, beberapa kali membuat takjub Mark dan Jason. Dari headbang, moshing, dan circle pit yang tidak ada habis-habisnya malam itu. Disuguhi dengan sound yang sangat powerful, dan tata cahaya yang keren. Malam itu benar-benar menggila.

Banyak lagu diambil dari terbarunya, Heirs To Thievery. Dan beberapa lagu dari semua album lamanya tidak ketinggalan untuk dibawakan. Seperti dari album Traitors dan Retaliate. Kurang lebih satu setengah jam konser Misery Index berlangsung, akhirnya usai. Benar-benar suguhan yang berbahaya!










Berikut beberapa video yang sempat terekam. Mohon maaf karena gatdget yang dimiliki seadanya, hasil rekam video maupun suaranya tidaklah maksimal. Tapi lumayan lah buat kenang-kenangan. Salam Olahraga! \m/





Sebagai bonus, entah ini neneknya siapa, mungkin nyasar dari acara majelis taklim kegelapan. Berbekal dandanan nyentrik, celana ketat, dan tas besar, berada ditengah-tengah penonton. Sempat beberapa kali di sindir dan dikerjain oleh sang MC, saat itu Alay Error. Tapi nenek tersebut tetap nyantai saja, ketawa-ketiwi gak jelas. Emang dasarnya lagi nyari mangsa kayaknya! #eaaa



Monday, March 28, 2011

Peringatan Earth Hour Di Bundaran HI



Akhirnya ditambah satu lagi label tag di blog sederhana ini. Label tag dengan sebutan Go Green ini akan mendukung segala bentuk kegiatan berbasis lingkungan. Sekalian di posting perdana, berhubung hari Sabtu malam kemarin saya dan beberapa teman-teman menyempatkan hadir di bundaran HI, untuk ikut meramaikan aksi Earth Hour ini. Dan berikut sedikit liputan-nya dibawah.

Pada hari sabtu 26 Maret 2011 kemarin, pada pukul 20.30 - 21.30 malam, dilangsungkan sebuah aksi Earth Hour. Jakarta, merupakan salah satu kota, dari sekian banyak kota-kota di dunia yang mendukung program ini. Secara garis besar Earth Hour adalah sebuah kegiatan global yang di proklamirkan oleh WWF, yang diadakan pada setiap hari Sabtu terakhir pada bulan Maret setiap tahunnya. Dengan aksi sederhana yaitu mengajak rumah-rumah dan perkantoran untuk mematikan listrik yang tidak perlu selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran manusia atas perubahan iklim, seperti Global Warming.



Sebelum detik-detik mematikan lampu Earth Hour kemarin, di bundaran HI massa sudah datang meramaikan dari beberapa jam sebelumnya, dan mayoritas dipenuhi oleh para aktivis WWF, para komunitas sepeda, dan banyak juga masyarakat biasa yang hadir ingin menyaksikan acara ini secara langsung. Tepat pada 20.30 malam, setelah dilakukan hitungan mundur bersama-sama akhirnya lampu sekitar bundaran HI padam satu persatu, hingga akhirnya gelap gulita. Otomatis euforia Earth hour mulai tercipta, dari nyanyian lagu-lagu nasional dikumandangkan bersama-sama, penampilan maskot panda WWF yang jalan mengitari bunderan HI, dan sibuknya menyalakan lilin beramai-ramai, menjadikan sebuah pengalaman yang cukup berkesan.

Tapi sangat disayangkan banyak masyarakat yang kurang mengindahkan program ini, tidak jauh dari sana lampu 7-Eleven masih terang menyala, dan banyak pula para anak muda yang merayakan Earth Hour di tempat itu, disuguhi dengan musik live lokal. Belum lagi para anak muda yang mengunjungi mall di sekitar itu pada saat yang bersamaan. What the F**k? Sangat berbanding terbalik dengan keadaan di sekitar Bundaran HI, Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, Monas, Patung Pemuda, Patung Arjuna Wiwaha, Balai Kota, dan beberapa gedung-gedung perkantoran lainnya. Yang terpenting semoga aksi ini tidak hanya dilakukan satu jam kemarin saja, tetapi seterusnya. Seperti tagline yang mereka gencarkan: Setelah satu jam, jadikan gaya hidup!









Note: Untuk gambar paling atas pertama dan kedua diambil dari Daily Mail.

Link terkait: www.earthhour.org & www.earthhour.wwf.or.id

Wednesday, March 23, 2011

Kembalinya Jakarta Death Fest 2011


Berkesempatan hadir di sebuah salah satu acara musik bawah tanah terbesar di Indonesia. Jakarta Death Fest, sebuah ritual tahunan para penggemar musik paling ekstrim di muka bumi. Berikut liputannya seadanya dibawah, mohon maaf apabila masih ada kekurangan dan segala macam pembahasan dan dokumentasi yang sedikit kurang berkenan.

Kalo tidak salah ini mungkin tahun ke-enam penyelengaraan Jakarta Death Fest, semenjak tahun 2006 lalu pernah dilangsungkan bertajuk Jakarta Death Fest Japanese Assault. Duel epic antara band death metal Jepang dan Indonesia yang dilangsungkan di Vicky Sianipar Center, Manggarai. Namun tidak terasa, tanpa pernah absen hadir di Jakarta Death Fest setiap tahunnya. Kali ini pun saya menyempatkan hadir, walaupun sedikit memaksa datang diantara dominasi deadline pekerjaan kantor yang rapat.

Tepat pukul 1 siang, akhirnya menginjakkan area acara, tepatnya di Bulungan Outdoor pada tanggal 20 maret 2011 kemarin. Cukup mengejutkan, massa sudah sangat padat mengantri panjang di gerbang depan. Karena biasanya massa baru ramai menjelang sore hari. Antrian pun tumpah ruah di sekitar pelataran kompleks bulungan, hingga membuat macet lalu lintas di depannya.

Sempat diguyur hujan besar dua kali walaupun sebentar, tidak menyurutkan massa untuk tetap headbang dan moshing dibawah guyuran hujan. Salut! Makin sore makin padat, diantara distorsi yang terus menggempur para pengunjung pun makin merapat di area dalam, kali ini benar-benar penuh dan sesak. Kabarnya 3500 tiket sold out, area dinyatakan over load beberapa kali sehingga gerbang memakai sistim buka tutup untuk menghindari kelebihan kapasitas di dalam. Massa yang datang juga tidak dari Jakarta dan sekitarnya saja, tapi para pendatang dari Bandung, Kediri dan beberapa kota di Jawa, kabarnya dari Lampung dan Kalimantan juga ikut meramaikan.

Terhitung 15 band yang tampil beringas hari itu, Jasad, Dead Squad, Pernicious Hate, Siksakubur, Prosatanica, Asphyxiate, Demented Heart, Revenge, Ababil, Carnivored, Sickmath, dan beberapa lainnya. Tetapi cukup disayangkan Funeral Inception berhalangan mengisi acara. Seluruh band tampil maksimal menyayat telinga, menggempur dengan distorsi ribuan watt, ketukan drum menggerinda sangat intens, scream, growl, dan guttural yang menyeruak, makin membuat massa yang hadir larut dalam headbang, moshing, sesekali circle pit dan crowd surfing ditengah kepadatan manusia.

Tanpa berbicara panjang lebar lagi, berikut beberapa dokumentasi foto yang sempat terekam pada hari itu :















Salut buat BMQ sebagai event organizernya, yang dikepalai Bento Prosatanica. Semoga di tahun-tahun depan dapat selalu menggelar acara tahunan ini. Saya pribadi berharap mungkin dapat dibuat di tempat yang lebih besar lagi. Dan tidak menutup kemungkinan dapat menghadirkan band luar juga. Berikut liputan diatas, semoga komunitas bawah tanah di Indonesia makin berkembang pesat kedepannya! Salam metal selalu, mantab jaya! \m/

Dibawah ini tambahan bonus video Jasad dan Asphyxiate :





Friday, March 11, 2011

Membangun Karakter Visual Dalam 8-bit


Tidak sengaja menemukan situs unik pengubah visual karakter diri menjadi berbentuk visual 8-bit. Lumayan buat update avatar twitter setelah berbulan-bulan tidak pernah diganti. Yang mana menjurus ke perbuatan dosa, karena sempat menelantarkan social media yang harus digunakan sebagaimana semestinya.

Dalam memeriahkan SXSW atau South By Southwest, sebuah festival besar tahunan musik, film, dan media interaktif lainnya khususnya di Amerika. selalu saja ada terobosan baru dari media-media baru maupun lama, berlomba-lomba menciptakan promosi yang unik dan 'nyeleneh' untuk merangkul masyarakat, tidak terkecuali dalam situs ini. Dengan konsep Eightbit vs SXSW, mencoba mengajak kita melawan festival SXSW yang sedang berlangsung.

Bagaimana caranya? Hanya dengan mengakses situsnya, dan sedikit mengkustomisasi sesuai keinginan kita, jadilah sebuah visual lucu berbasis 8-bit. Setelah selesai, jangan lupa untuk di share ke twitter dan otomatis langsung mengganti avatar kita. Benar-benar cara yang sangat instan, tidak perlu bergalau-galau ria dalam men-tracing foto anda dalam aplikasi berbasis vector seperti biasanya. Selamat mencoba! :D

Link terkait : www.eightbit.me

Thursday, March 10, 2011

Sabtu Malam Di Java Jazz Festival 2011


Diawali dengan update twitter diatas, akhirnya merapat setelah mendapat sebuah tiket gratisan dari sepupu saya yang baik hati, bernama Odri. Berikut adalah (lagi-lagi) sedikit liputan kecil-kecilan selama beberapa saat di Java Jazz. Yang mana tidak terasa sudah genap empat tahun berturut-turut saya berkesempatan hadir dan menonton event tahunan salah satu event musik jazz terbesar di asia ini.

Datang pada hari kedua event Java Jazz Festival 2011, tepatnya pada tanggal 5 maret. Seperti biasa, ramai dan padat dengan pengunjung yang datang, terlihat dari antrian panjang di sore harinya. Apalagi kehadiran banyak bintang besar ternama pada tahun ini, seperti Santana, George Benson, dan lainnya, walaupun total pengisi acara tidak sebanyak tahun kemarin. Tetapi kali ini terlihat dari pihak sponsor yang semakin banyak, penambahan banyak booth sponsor di dalam jadi mengingatkan kesan seperti acara PRJ.



Setelah masuk sampai di dalam, langsung saja saya merapat di Dji Sam Soe Jazz Corner, Gugun Blues Shelter sedang tampil disana. Dengan ciri khas blues yang kental dan eksentrik, memanaskan tempo para penonton yang menyaksikan di area tersebut. Benar-benar penampilan yang powerful, jadi teringat tahun kemarin di Java Jazz Festival 2010 waktu saya menyaksikan penampilan live mereka pertama kali.





Lalu saya sempatkan menonton, Jopie Item, Andien, dan George Duke And The All Stars. Semuanya menampilkan penampilan yang maksimal, membuat semua tempat benar-benar padat. Apalagi sewaktu George Duke tampil, banyak mengundang bintang lainnya untuk berkolaborasi, ditutup dengan komposisi dua drumer dan dua bassis yang megah, membuat pengunjung teriak "we want more, we want more!", seperti biasa disudahkan mereka begitu saja tanpa tambahan lagi.








Tak sengaja menonton Jamie Lidell, penampilan yang benar-benar memukau. Dengan musik yang progresif eksperimental, berhasil memadukan musik modern dengan musik pop jazz hanya dengan tiga personel. Apalagi ditambah dengan gaya para personel yang sangat eksentrik dan sedikit balutan artistik di peralatan musik mereka.





Dan berikut beberapa performa yang saya tonton. Tohpati Bertiga, Sebuah proyek baru dari Tohpati, dibantu dengan Indro untuk bass, dan Bowie sang drummer Gugun Blues Shelter. Memberikan sebuah komposisi musik progresif unik dengan campuran rock dan etnik. Lalu Zap Mama, grup pop jazz dari perancis yang cenderung bermusik dan berpenampilan era eighties, sang vokalis tampil dengan tarian yang unik. Tidak tanggung-tanggung beraksi 'jumpalitan' seraya 'koprol' diatas panggung dengan pakaian yang sangat ribet, membuat para penonton terperangah. Dan terakhir, Maliq & D'Essential, area seketika langsung padat dengan ribuan penonton, yang mayoritas diisi dengan para pemuda dan pemudi yang hafal mati bait demi bait grup band pujaannya tersebut. Untuk Maliq & D'Essential kali ini agak beda, dengan konsep era-era Grease, baju putih dan jeans biru, dilengkapi dengan dance battle antar personelnya menambah kesan berbeda pada malam itu.





Secara keseluruhan, Java Jazz Festival 2011 benar-benar event yang wajib diikuti setiap tahunnya. Kita tunggu tahun depan, kejutan apalagi yang akan ditampilkan mereka. Semoga masih tetap ada kesempatan untuk melihatnya! Salam hangat, salam olahraga! \m/ #eaaa

Link terkait: www.javajazzfestival.com