Pages

Wednesday, June 15, 2011

Merapat di FixedFest 2011


Setelah disempat-sempatkan merapat di acara ini, akhirnya hadir di waktu menjelang siang, dengan cara gowes dari rumah ke SCBD Sudirman. Walaupun sepeda saya sepertinya menjadi folding bike satu-satunya di acara FixedFest 2011 ini, namun tidak masalah. Selama masih bannya masih bundar, serta sama-sama di gowes pake tenaga manusia, mari kita bergabung. Berikut liputan seadanya dibawah. Salam gowes! \m/

Tahun ini, Rocket Company kembali menyuguhkan acara sepeda fixed gear terbesar di Indonesia. Setelah pada sekitar Juli 2010 mereka terakhir mengadakannya. Kali ini mengusung dengan acara Britama FixedFest 2011, pada hari Sabtu tanggal 11 Juni 2011 kemarin, bertempat di parkiran Automall SCBD, Sudirman. Yang menarik FixedFest 2011 dimeriahkan oleh para profesional player dari luar negeri, seperti Emi Brown, Michael Chacon, Chas Christiansen, Matt Spencer, Patrick Thames, dan Terrence Patrick.

Pada hari itu area SCBD benar-benar penuh sepeda fixed gear. Mungkin lebih dari 1000 lebih pengendara fixed gear dari berbagai komunitas hadir disana. Banyak acara seru pun di gelar, beberapa diantaranya : Alley Cat, Mini Race, Gold Sprint, Estafet Race, Trick Battle, Long Skid, dan Polo Bike Exhibition. Dan juga diramaikan dari pertunjukan film, Live Music, Bike Market, hingga Bike Porn Exhibition. Banyak pula peserta banyak yang hadir dari luar kota, seperti Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, hingga Makassar. Terlihat pula beberapa wartawan asing dari Jepang, Malaysia, Singapura, dan Australia.

Benar-benar acara yang sukses dan tertib. Sangat ditunggu acara serupa di Indonesia. Apalagi menggalahkan tema go green seperti ini, mengajak masyarakat lebih menghargai lingkungannya. Seperti pada tema acara FixedFest 2011 ini yaitu : Respect Go Fixed Go Green!

Beberapa foto dapat dilihat dibawah ini! :D













Tuesday, June 14, 2011

The Cove: Pembelaan Terhadap Lumba-Lumba


Directed : Louie Psihoyos
Produced :  Fisher Stevens & Paula DuPre Pesmen

Sebenarnya sudah menontonnya lebih dari setahun lalu. Artikel pun sudah dibuat beberapa bulan lalu, namun gak pernah sempat selesai. Akhirnya coba diteruskan pembahasannya beberapa hari terakhir. Lumayan buat nambahin postingan di blog ngasal ini, maklum udah sebulan lebih belum sempat posting lagi.

The Cove merupakan film dokumenter yang sangat bagus, yang sayang untuk di lewatkan. Dengan total 1 jam 30 menit, berisi tentang wawancara, dan beberapa aksi seru yang direkam secara real. Film alternatif, lumayan buat mengisi luang diantara gempuran film-film fiktif di layar lebar kebanyakan.

Konsep Dan Cerita

Pada di sebuah tempat di Jepang, tepatnya di wilayah Taiji, Wikayama. Tiap tahunnya sekitar 20.000 lumba-lumba dibantai secara brutal atas nama tradisi, yang kemudian dagingnya dijual dan di konsumsi. Oleh karena itu, sang sutradara Louie Psihoyos bersama Richard O'Barry dan beberapa aktivis lainnya mencoba mendokumentasikan kejadian tersebut, dengan tujuan agar dapat disebarluaskan kepada dunia agar membantu menghentikan tradisi itu. Namun dengan tentangan kuat masyarakat nelayan Taiji, dan tekanan intel-intel Jepang menjadikannya tidak mudah. Dengan adannya hal seperti ini, Ric O'Barry dan aktivis lainnya memikirkan sebuat cara yang brilian untuk mengelabui dan mengatasinya. Untuk lebih jelasnya mungkin harus menontonnya secara langsung.

Documentary Action Thriller

Mungkin ini salah satu hal yang membedakan dengan film dokumenter lainnya. Yaitu memadukan unsur aksi dan unsur indentifikasi ala detektif, membuat plot dan perjalanan cerita menjadi seru dan menegangkan. Melarikan diri dari kejaran intel, pengintaian pun dilakukan di tengah malam buta, melewati pagar-pagar kawat berduri,memanjat tebing-tebing curam di sekitar perairan Taiji. Serta Membuat kamera khusus yang menyerupai tekstur batu, dan penggunaan kamera night vision dan kamera bawah air berteknologi tinggi.

Kontroversi Dan Dampak Film

Di penghujung film disertakan footage tentang pembantaian lumba-lumba yang berhasil di dokumentasikan. Bagaimana rasanya menonton tradisi brutal tersebut secara langsung? Pastinya cukup terkejut, sedih, sekaligus miris dan menegangkan. Hal inilah yang membuat para Deputi Perikanan Jepang geram, merasa kecolongan. Dampak yang sangat luar biasa, beberapa penjabat dipecat, dan program konsumsi daging lumba-lumba di sekolah dasar wilayah Taiji pun dihentikan.

Menurut saya, The Cove merupakan film dokumenter shock therapy pada dunia. Tentang keganasan nelayan-nelayan di salah satu sudut di Jepang. Di ekspos secara terang-terangan di film ini. Cukup kontroversi, walaupun tidak sebrutal Earthlings, tapi pesannya tetap kena ke penonton. Sudah dapat dipastikan meraup total lebih dari 20 penghargaan dari berbagai festival film dunia. Salut!

Dibawah ini merupakan trailernya yang versi Jepang, lebih lengkap. Selamat menikmati! :D



Link Website : http://www.thecovemovie.com/

Monday, May 2, 2011

Nonton Bareng Premiere Film JAKARTARCK



Directed : Ari Rusyadi
Produced : Naga Natio, Aji Warpani, & Hermanto

Menyempatkan diri untuk hadir, setelah menembus kemacetan Jakarta Selatan di hari Jum'at sore. Berhasil datang tepat waktu ke tempat pertunjukan dengan sepeda lipat, sekalian ketemu beberapa member dari id-foldingbike. Untung saja malam itu tidak hujan, walaupun sedikit mendung. Dibawah ini adalah sedikit liputannya, salam gowes!

Pada hari jum'at 29 April 2011, pada jam 8 malam, di area Taman Ismail Marzuki. Sebuah film dokumenter sepeda fixed gear Jakarta pertama diputar di Indonesia. Sekitar 500 sepeda fixie hadir menyaksikan bersama tayangan perdana film tersebut. Acara dikemas dengan sangat sederhana, bertempat di tempat terbuka, yaitu di Halaman Teater Besar, dan diputar diatas layar tancep yang cukup besar. Yang unik para penonton pun kebanyakan nonton diatas sepeda ala drive-in theater tahun 1960-an.


jakarTARCK Official Trailer from jakarTARCK on Vimeo.

Film dokumenter ini banyak mengupas tentang perkembangan fixed gear di Jakarta pada umumnya. Banyak tokoh-tokoh yang diwawancarai, tidak lupa toko-toko sepeda andalan, hingga komunitas-komunitas fixed gear pun tidak ketinggalan dibahas dan disorot. Benar-benar film yang sangat menggugah, apalagi beberapa waktu belakangan ini demam sepeda sedang tinggi-tingginya di Indonesia.

Beberapa foto saat nonton bareng Premiere JAKARTARCK dapat dilihat dibawah ini :







Friday, April 8, 2011

Misery Index Menggempur Ibukota


Demi untuk nambah-nambahin postingan di blog ini, tidak ada salahnya membahas konser Misery Index di Jakarta, yang sempat saya tonton minggu kemarin. Mumpung masih ramai-ramainya dibahas, serta keburu belum basi liputannya. Tanpa bicara panjang lebar lagi, berikut liputannya dibawah.

Setelah ditunggu-tunggu, pada tanggal 3 April 2011, akhirnya Misery Index band Death Grind asal Amerika, berhasil menggulung ibukota dengan balutan distorsinya, dalam tour yang bertajuk Heirs to Thievery Asian Tour 2011. Setelah sebelumnya mereka main di berbagai tempat di Indonesia, seperti Surabaya, Makasar, Jogja, dan Medan. Yang berhasil menggiring Misery Index ke jakarta adalah Revision Entertainment, sebuah event organizer hasil reinkarnasi dari Pentia Quantum, yang bulan september tahun lalu mendatangkan Dying Fetus.

Acara mulai sekitar pukul 3 sore, dan para penonton sudah mulai masuk kedalam. Walaupun sore itu tidak seramai Jakarta Death Fest, namun beberapa penonton tetap khusyuk ber-headbang di bibir panggung seraya menikmati band pembukanya. Speed Zero Meter, Bleeding Corpse, Oshiego (Singapura), berhasil memanaskan suasana. Disusul oleh Beside yang dipotong break maghrib, dan ketika sudah mulai menggelap dilanjutkan oleh Dead Vertical, Siksa Kubur. Sehingga penonton pun sudah mulai memadati area dalam.






Kemudian sekitar pukul 7 malam, kuartet Misery index tampil mengganas dan mematikan. Disambut dengan penonton yang atraktif sepanjang pertunjukan, beberapa kali membuat takjub Mark dan Jason. Dari headbang, moshing, dan circle pit yang tidak ada habis-habisnya malam itu. Disuguhi dengan sound yang sangat powerful, dan tata cahaya yang keren. Malam itu benar-benar menggila.

Banyak lagu diambil dari terbarunya, Heirs To Thievery. Dan beberapa lagu dari semua album lamanya tidak ketinggalan untuk dibawakan. Seperti dari album Traitors dan Retaliate. Kurang lebih satu setengah jam konser Misery Index berlangsung, akhirnya usai. Benar-benar suguhan yang berbahaya!










Berikut beberapa video yang sempat terekam. Mohon maaf karena gatdget yang dimiliki seadanya, hasil rekam video maupun suaranya tidaklah maksimal. Tapi lumayan lah buat kenang-kenangan. Salam Olahraga! \m/





Sebagai bonus, entah ini neneknya siapa, mungkin nyasar dari acara majelis taklim kegelapan. Berbekal dandanan nyentrik, celana ketat, dan tas besar, berada ditengah-tengah penonton. Sempat beberapa kali di sindir dan dikerjain oleh sang MC, saat itu Alay Error. Tapi nenek tersebut tetap nyantai saja, ketawa-ketiwi gak jelas. Emang dasarnya lagi nyari mangsa kayaknya! #eaaa



Monday, March 28, 2011

Peringatan Earth Hour Di Bundaran HI



Akhirnya ditambah satu lagi label tag di blog sederhana ini. Label tag dengan sebutan Go Green ini akan mendukung segala bentuk kegiatan berbasis lingkungan. Sekalian di posting perdana, berhubung hari Sabtu malam kemarin saya dan beberapa teman-teman menyempatkan hadir di bundaran HI, untuk ikut meramaikan aksi Earth Hour ini. Dan berikut sedikit liputan-nya dibawah.

Pada hari sabtu 26 Maret 2011 kemarin, pada pukul 20.30 - 21.30 malam, dilangsungkan sebuah aksi Earth Hour. Jakarta, merupakan salah satu kota, dari sekian banyak kota-kota di dunia yang mendukung program ini. Secara garis besar Earth Hour adalah sebuah kegiatan global yang di proklamirkan oleh WWF, yang diadakan pada setiap hari Sabtu terakhir pada bulan Maret setiap tahunnya. Dengan aksi sederhana yaitu mengajak rumah-rumah dan perkantoran untuk mematikan listrik yang tidak perlu selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran manusia atas perubahan iklim, seperti Global Warming.



Sebelum detik-detik mematikan lampu Earth Hour kemarin, di bundaran HI massa sudah datang meramaikan dari beberapa jam sebelumnya, dan mayoritas dipenuhi oleh para aktivis WWF, para komunitas sepeda, dan banyak juga masyarakat biasa yang hadir ingin menyaksikan acara ini secara langsung. Tepat pada 20.30 malam, setelah dilakukan hitungan mundur bersama-sama akhirnya lampu sekitar bundaran HI padam satu persatu, hingga akhirnya gelap gulita. Otomatis euforia Earth hour mulai tercipta, dari nyanyian lagu-lagu nasional dikumandangkan bersama-sama, penampilan maskot panda WWF yang jalan mengitari bunderan HI, dan sibuknya menyalakan lilin beramai-ramai, menjadikan sebuah pengalaman yang cukup berkesan.

Tapi sangat disayangkan banyak masyarakat yang kurang mengindahkan program ini, tidak jauh dari sana lampu 7-Eleven masih terang menyala, dan banyak pula para anak muda yang merayakan Earth Hour di tempat itu, disuguhi dengan musik live lokal. Belum lagi para anak muda yang mengunjungi mall di sekitar itu pada saat yang bersamaan. What the F**k? Sangat berbanding terbalik dengan keadaan di sekitar Bundaran HI, Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, Monas, Patung Pemuda, Patung Arjuna Wiwaha, Balai Kota, dan beberapa gedung-gedung perkantoran lainnya. Yang terpenting semoga aksi ini tidak hanya dilakukan satu jam kemarin saja, tetapi seterusnya. Seperti tagline yang mereka gencarkan: Setelah satu jam, jadikan gaya hidup!









Note: Untuk gambar paling atas pertama dan kedua diambil dari Daily Mail.

Link terkait: www.earthhour.org & www.earthhour.wwf.or.id

Wednesday, March 23, 2011

Kembalinya Jakarta Death Fest 2011


Berkesempatan hadir di sebuah salah satu acara musik bawah tanah terbesar di Indonesia. Jakarta Death Fest, sebuah ritual tahunan para penggemar musik paling ekstrim di muka bumi. Berikut liputannya seadanya dibawah, mohon maaf apabila masih ada kekurangan dan segala macam pembahasan dan dokumentasi yang sedikit kurang berkenan.

Kalo tidak salah ini mungkin tahun ke-enam penyelengaraan Jakarta Death Fest, semenjak tahun 2006 lalu pernah dilangsungkan bertajuk Jakarta Death Fest Japanese Assault. Duel epic antara band death metal Jepang dan Indonesia yang dilangsungkan di Vicky Sianipar Center, Manggarai. Namun tidak terasa, tanpa pernah absen hadir di Jakarta Death Fest setiap tahunnya. Kali ini pun saya menyempatkan hadir, walaupun sedikit memaksa datang diantara dominasi deadline pekerjaan kantor yang rapat.

Tepat pukul 1 siang, akhirnya menginjakkan area acara, tepatnya di Bulungan Outdoor pada tanggal 20 maret 2011 kemarin. Cukup mengejutkan, massa sudah sangat padat mengantri panjang di gerbang depan. Karena biasanya massa baru ramai menjelang sore hari. Antrian pun tumpah ruah di sekitar pelataran kompleks bulungan, hingga membuat macet lalu lintas di depannya.

Sempat diguyur hujan besar dua kali walaupun sebentar, tidak menyurutkan massa untuk tetap headbang dan moshing dibawah guyuran hujan. Salut! Makin sore makin padat, diantara distorsi yang terus menggempur para pengunjung pun makin merapat di area dalam, kali ini benar-benar penuh dan sesak. Kabarnya 3500 tiket sold out, area dinyatakan over load beberapa kali sehingga gerbang memakai sistim buka tutup untuk menghindari kelebihan kapasitas di dalam. Massa yang datang juga tidak dari Jakarta dan sekitarnya saja, tapi para pendatang dari Bandung, Kediri dan beberapa kota di Jawa, kabarnya dari Lampung dan Kalimantan juga ikut meramaikan.

Terhitung 15 band yang tampil beringas hari itu, Jasad, Dead Squad, Pernicious Hate, Siksakubur, Prosatanica, Asphyxiate, Demented Heart, Revenge, Ababil, Carnivored, Sickmath, dan beberapa lainnya. Tetapi cukup disayangkan Funeral Inception berhalangan mengisi acara. Seluruh band tampil maksimal menyayat telinga, menggempur dengan distorsi ribuan watt, ketukan drum menggerinda sangat intens, scream, growl, dan guttural yang menyeruak, makin membuat massa yang hadir larut dalam headbang, moshing, sesekali circle pit dan crowd surfing ditengah kepadatan manusia.

Tanpa berbicara panjang lebar lagi, berikut beberapa dokumentasi foto yang sempat terekam pada hari itu :















Salut buat BMQ sebagai event organizernya, yang dikepalai Bento Prosatanica. Semoga di tahun-tahun depan dapat selalu menggelar acara tahunan ini. Saya pribadi berharap mungkin dapat dibuat di tempat yang lebih besar lagi. Dan tidak menutup kemungkinan dapat menghadirkan band luar juga. Berikut liputan diatas, semoga komunitas bawah tanah di Indonesia makin berkembang pesat kedepannya! Salam metal selalu, mantab jaya! \m/

Dibawah ini tambahan bonus video Jasad dan Asphyxiate :